Menundukkan Dunia dengan Menulis

Menundukkan dunia dengan menulis? Apa mungkin? Bisakah? Bagaimana? Ah, terlalu berlebihan..

Kira-kira inilah suara yang justru berdesakan saling menyerobot di pemikiran saya. Ah, cuma dengan menulis bisa menundukkan dunia?Bukankah dunia telah sedemikian kokohnya dengan yang namanya kapital (modal,uang, dsb). Bukankah dunia telah penuh dengan kekuasaan nan canggih dengan teknologinya? Di mana kekuatan menulis?

Mendengar semua bisikan itu memang membuat saya down. Tapi untungnya tidak berhenti disitu saja. Saya membuka pamflet acara yang menjadikan kalimat itu sebagai tema besarnya dan saya justru menjadi malu. Malu karena masih adanya harapan dan keyakinan bahwa benar, dunia mampu kita tundukkan dengan menulis. Dan keyakinan itu muncul dan tengah dimunculkan melalui generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah. Keyakinan itu ibarat cambuk bagi diri sendiri yang tengah terhinggapi kejenuhan menulis untuk kembali bangkit.

1503222_618121601588715_1637178732_n

Menulis memang kerap dianggap enteng dan sebelah mata oleh beberapa pihak bahkan saya sendiri awalnya. Sekeren apa sih pengaruh tulisan dalam kehidupan? Nyatanya harga barang pokok makin naik melangit. Toh, pemerintahan masih terus seret dalam fungsi sejatinya menyejahterakan rakyat. Aduh, menulis?Di mana posisimu?

Mungkin saya bukan dalam kapasitas yang mampu menjelaskan secara detil bahwa kita mampu tundukkan dunia dengan menulis. Saya hanya termasuk sebagai salah satu penikmat tulisan yang memang memiliki kekuatan menundukkan dunia. Tulisan seperti apakah itu? Adalah Al Quran Al Karim, yang merupakan sebuah pedoman tertulis umat muslim yang orisinilitas dan kesuciannya dijaga langsung oleh Sang Haq, Alllah SWT. Al Quran menjadi penuntun kita pada way of life (cara hidup) yang paling sempurna, Islam. Al Quran yang merupakan satu dari dua hal yang Muhammad SAW wariskan tidak hanya menancapkan perihal ritual ibadah semata. Namun justru dalam holy book inilah dapat kita temukan metode, strategi, dan segala hal paling canggih untuk menundukkan dunia. Dan semua hal itu diperuntukkan bagikita, the choosen one yang didapuk Allah menjadi khalifah (pemimpin). Kita, manusia.

Di samping itu, banyak sekali tulisan (buku) yang telah membuktikan jati dirinya sebagai pengubah dunia. Seperti contoh buku yang ditulis oleh Ibnu Sina di bidang kedokteran (kesehatan) yang kini menjadi rujukan jagad dunia kedokteran. Tak jauh, buku-buku yang berisi buah pemikiran para penulis/penggagasnya seperti Sayyid Quthb, Hamka, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, bahkan penulis era kini Habiburrahman, Andrea Hirata, Fauzil Adhim, Salim A. Fillah, Tere Liye, Akmal Sjafril, Adian Husaini dan banyak lainnya yang mari kita akui bahwa karya mereka mampu menggerakkan banyak jiwa hingga mengadakan perubahan yang kian mendinamisasi dunia ini.

Ah, mungkin saya masih sangat amat jauh dari mereka dan penulis lain yang dengan tulisannya mampu mencerahkan banyak manusia untuk kian meningkatkan kualitas diri sebagai pemimpin sejati. Tapi mari beroptimis ria untuk menjadi bagian dari para pahlawan yang terus hidup itu. Ya, mereka penulis yang mengkaryakan dirinya dalam bentuk tulisan secara langsung menjadi pahlawan yang terus hidup. Ia tidak hanya dikenang namanya dan ditulis dalam buku sejarah. Tapi ia terus berbicara melalui tulisannya, ideologinya menyala tanpa kekurangan kayu dan bahan bakar. Jasadnya boleh mati terkubur tanah tapi pemikiran dan jiwanya, keresahan dan harapannya akan terus hidup seiring kita generasi penerus membaca, mendiskusikan dan menjadikannya pasak perjuangan ke depan.

Menguasai atau menundukkan dunia dengan menulis erat kaitannya dengan ilmu. Fachri (2014), sohib yang jago dan kuat tulisannya menyatakan, “Mengapa bidang keilmuan? Karena ‘ilmu’ adalah pisau tajam yang menjadi senjata ampuh untuk menguasai dunia itu sendiri.” Nah. Saya mengaitkan pula tulisan dengan ilmu karena pengikat terbaik ilmu kata Ali bin Abi Thalib adalah dengan tulisan. Maka dunia akan mudah ditundukkan dengan ilmu yang kita ikat dan bumikan dengan tulisan.

Dalam pengantar singkat ini tiada mungkin cukup mengejawantahkan semua hal yang ingin saya bagi untuk menyemangati Anda dan utamanya diri saya untuk terus menulis. Buanglah jauh perasaan malu, sulit memulai, takut tak bermanfaat, tak sempat, takut banyak salah, dll yang menghambat Anda menulis. Bayangkan saja peluang kebaikan, peluang kebermanfaatan yang kita siakan jika tidak menulis. Kita mungkin belum bisa menggelar perkumpulan akbar di banyak tempat untuk membagikan buah pemikiran kita yang mungkin sangat sederhana. Akan tetapi dengan menulis dan menguatkan tulisan kita, distribusi ide akan masif lebih mudah.

Jika Anda dokter, tulislah pengalaman Anda yang bermanfaat agar masyarakat kian sehat jiwa dan raga. Jika Anda guru, tulislah apa-apa yang menyemangati manusia untuk cerdas dan mencerdaskan. Jika Anda pemimpin, tulislah butir-butir yang kokohkan jati diri apa yang Anda pimpin. Terlebih jika Anda da’i dan intelek. Akan kian banyak hal perbaikan dengan torehan tulisan bergizi yang mencerdaskan bagi umat ini.

Wallahu a’lam bish showab. (Sofistika Pemimpin Redaksi Eramadina)

About Muhamad Yusuf

~Its my profile... https://madyusuf.wordpress.com/about/

Posted on 21/01/2014, in Menulis, Penulis, Tips Menulis and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

fatkoer.wordpress.com

Sahabat Pembelajar

santiariyani32

The greatest WordPress.com site in all the land!

NOTES TO REFLECT

"where the memories are captured"

Menulis dan Berbagi

:: If u Have Good Teachers, U Will Have Good Nations ::

Tips Motivasi

Tips-Tips Motivasi by Reza Wahyu

KAMMI MADANI

Terus Berkarya dan Menginspirasi

"Bisa Karena Terbiasa"

Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Chichi N. Utami

...that you don't know what you've got 'til its gone

Blognya Omiyan

2 Perbedaan 1 Hati

%d blogger menyukai ini: